February 25, 2018
You can use WP menu builder to build menus


Beginikah Berakhirnya Era Lin Dan?

Juara
Olimpiade, Juara Asian Games, Juara Asia, dan puluhan gelar juara super series
adalah serentetan gelar yang telah diraih Lin Dan. Atlet Tiongkok berjuluk
Super Dan ini memang melegenda karena telah mengoleksi gelar-gelar penting
dalam bulu tangkis secara komplit.
Secara
perkasa, berhasil membuat Lee Chong Wei gagal mempersembahkan medali emas
olimpiade pertama cabang bulu tangkis bagi Malaysia. Pasalnya, dua kali pula
Lin Dan mengalahkan Chong Wei di Olimpiade Beijing 2008 dan London 2012. Dan
kini, keduanya masih turut meramaikan ketatnya persaingan Tunggal Putra Dunia.
Adalah
mengejutkan ketika Lin Dan harus kalah di babak 32 besar pada dua turnamen awal
2018, yakni pada Malaysia Masters 2018 dan Daihatsu Indonesia Masters 2018.
Pada Malaysia Masters 2018 (17/01) Lin Dan dipermalukan tunggal putra muda
Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa di pertandingan yang berlangsung secara rubber
game 16-21 21-18 17-21 selama 1 jam 11 menit.
Sedangkan
di Indonesia Masters kemarin (24/01), Lin Dan lagi-lagi menyerah dari tunggal
putra muda yang kali ini dari Thailand, Kantaphon Wangcharoen. Kantaphon menang
dua set langsung 21-15 21-19 dalam 41 menit.
Kalahnya
Lin Dan di dua turnamen secara beruntun apalagi di babak pertama dan melawan
pemain muda adalah penuh tanda tanya. Saya sendiri beranggap bahwa era seorang
Lin Dan telah berakhir. Pemain muda dunia sudah mulai menunjukkan kualitasnya
dan siap mendepak para atlet senior.
Tiga
tunggal putra Indonesia yang membuat kejutan di Malaysia Masters 2018| Sumber:
Twitter @YonexAllEngland
Tiga
tunggal putra Indonesia yang membuat kejutan di Malaysia Masters 2018| Sumber:
Twitter @YonexAllEngland
Saya
memprediksi akan terjadi perubahan peta persaingan terutama di sektor tunggal
putra dunia yang tidak lagi didominasi Tiongkok. Ke depan akan ada dua negara,
yakni Denmark dan Indonesia yang akan saling mendominasi. Setelah berakhirnya
era Jan O Jorgensen, Denmark langsung mengorbitkan banyak pemain muda bintang
seperti Victor Axelsen (Juara Dunia, Perunggu Olimpiade 2016, Rank 1 Dunia)
kemudian ada juniornya yang tak kalah membahayakan ada Anders Antonsen, Emil
Host, Rasmus Gemke.
Indonesia
sendiri ada Anthony Sinisuka Ginting (Juara Korea Open 2017) bersama Jonathan
Christie (Runner Up Korea Open 2017) dan tentu Ihsan Maulana Mustofa yang
mengalahkan Lin Dan. Jika berbicara pemain putra Indonesia dan Denmark tentu
akan muncul rivalitas. Pasalnya Denmark adalah pemegang Thomas Cup dan
Indonesia sebagai runner-up.
Mungkin
saya terlalu berspekulasi jika menganggap kalahkan Lin Dan sebagai bentuk
protes halus pada BWF terkait dengan jadwal turnamen yang begitu padat. Ya,
aturan baru BWF mengharuskan seorang atlet mengikuti 12 turnamen, jika tidak
maka akan dikenai denda. Tentu untuk pemain yang sudah berumur akan sangat
memberatkan.
Victor
Axelsen dan Lee Chong Wei bahkan melakukan protes terhadap kebijakan baru
tersebut. Dikutip dari juara.bolaspots.com Axelsen mengatakan:
“Ada
beberapa turnamen berturut-turut pada bulan ini. Dan terlalu banyak turnamen
akan mengganggu kebugaran pemain.”
Sedangkan
Lee Chong Wei sendiri mengaku siap jika harus membayar denda ketimbang harus
ikut 12 turnamen yang sangat melelahkan.



Source link

admin

No Comments

You must be logged in to post a comment.

Show Buttons
Hide Buttons
%d bloggers like this: